Strategi Hadapi si Tukang Gosip

Di lingkungan manapun, entah itu di rumah, sekolah dan di kantor, ternyata yang namanya ‘tukang gosip’ itu selalu ada. Memang, balada si tukang gosip bukan monopoli kaum ibu-ibu di kompleks perumahan. Di perkantoran yang terdiri dari para profesional pun tak terlepas dari kehadiran si tukang gosip.

Menurut pakar psikologi, orang yang suka bergosip umumnya merasa mengetahui berbagai informasi dan peristiwa apapun, sekalipun itu yang paling rahasia. Dan konyolnya, orang ini akan menyebarkan informasi yang diketahuinya itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Uniknya, ia merasa sebagai sumber informasi terlengkap di lingkungannya. Ia akan merasa bangga jika orang menganggapnya sebagai sumber informasi.
 

Namun, sebenarnya informasi yang disebarkan oleh si tukang gosip itu tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Umumnya ia sendiri tidak mengetahui secara pasti cerita yang sesungguhnya. Kabar yang disampaikan itu biasanya baru berupa desas-desus atau rumor di lingkungan kantor. Dan parahnya desas-desus yang disampaikan selalu bernada miring alias negatif. Karena berita tersebut biasanya merupakan hembusan dari satu orang ke orang lain. Hanya dengan sedikit mendengar selentingan kabar dari orang lain, oleh si tukang gosip kabar kecil tersebut bisa langsung menyebar ke seantero kantor anda.

Nah, bagaimana cara menghadapi si tukang gosip? Karena tidak tertutup kemungkinan andalah yang akan digosipkan di lain waktu. Jika anda mendapat giliran digosipkan di kantor, jangan gelisah ataupun emosional, apalagi sampai naik pitam dan memaki si biang gosip. Bersikaplah tenang, seolah-olah anda tidak mendengar gosip miring tentang anda, walau sebenarnya hati anda sangat terbakar. Ingat, sikap anda yang emosional justru akan membuat gosip semakin panas di kantor. Parahnya, jika anda emosional si penyebar gosip akan merasa puas dan merasa apa yang disampaikannya itu benar.

Sebaliknya, jika anda bersikap tenang dan santai terhadap gosip itu, justru akan meredam gosip yang sudah terlanjur beredar. Komentar dan pendapat minor tentang anda akan reda sendiri karena ketenangan anda. Bahkan rekan-rekan kerja anda yang sempat mempercayai gosip tersebut akan meragukan kebenaran gosip itu. Dan bisa jadi, rekan-rekan anda akan berpikir bahwa sebenarnya gosip itu adalah cerita fakta si penyebar gosip.


Kemudian, saat gosip tersebut sudah benar-benar reda dan suasana hati anda sudah kembali normal, datangi si sumber gosip. Ajaklah bicara secara baik-baik. Tanyakan, apakah benar ia yang menyebarkan cerita miring di kantor. Katakan padanya kalau anda benar-benar terganggu dengan kabar bohong tersebut. Kalau ia mengakuinya dan meminta maaf, terimalah maafnya dengan besar hati. Tetapi jangan lupa memperingatinya untuk tidak mengulangi perbuatannya. Atau katakan padanya, “Lain kali kalau mendengar berita buruk tentang saya, sampaikan saja langsung pada saya, biar nggak penasaran.”
Kalau ‘urat malunya’ belum putus, pasti deh ia akan merasa malu dan berpikir seribu kali untuk menyebarkan gosip lagi tentang anda. Selanjutnya, jika anda mendengar gosip tentang orang lain, jangan sampai terpancing untuk mempercayai apalagi ikut menyebarkannya. Juga jangan ikut-ikutan memberi komentar negatif. Bersikap diam adalah jalan terbaik, karena jika anda ikut memberi komentar atau pendapat tentang kabar miring seseorang, bisa jadi anda akan kena getahnya.

Perlu anda ketahui, lambat laun orang-orang yang hobi bergosip akan menemui hambatan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungannya. Kalau informasi yang disebarkan si tukang gosip tidak pernah terbukti, ia akan mendapat predikat ‘si pembual’ di kantor. Akibatnya orang-orang tidak akan mempercayai ucapannya lagi. Maka hati-hatilah, jangan sampai anda menjadi tukang gosip dan hati-hatilah menghadapi si tukang gosip.