Mungkinkah Memecat Bos

Selama ini orang beranggapan, tak seorang pun dalam jajaran manajemen yang lebih berkuasa dibanding chief executive. Sekarang, hal itu tak lagi berlaku. Soalnya, sudah banyak kita dengar kalau CEO ini dan CEO itu terlempar dari kursinya.

Dalam keseharian manajemen, pekerjaan memecat seseorang merupakan pekerjaan yang sangat tak mengenakkan. Bisa jadi sama tidak enaknya dengan diri sendiri yang diberhentikan atau dipecat. Mungkin itu juga sebabnya mengapa manajer atau eksekutif menyerahkan 'pekerjaan kotor' ini kepada siapa pun di bagian sumber daya manusia.
 

Perasaan sangat tak mengenakkan untuk mengatakan sebaiknya si bos berhenti biasanya muncul ketika dewan direksi menyadari strategi bisnis yang diterapkan si bos sama sekali tak berhasil.

Salah satu alasan utama kenapa perusahaan memberikan wewenang besar pada seorang chief executive dan menggantungkan 'nasib' perusahaan kepadanya adalah sejumlah kemampuan yang diharapkan memang dimilikinya. Seorang chief executive memang dituntut memiliki kemampuan teknis seperti pengendalian biaya dan pengawasan ketat terhadap pembukuan.

Tapi di luar itu, dengan dukungan birokrasi korporasi yang dimiliki, chief executive juga dituntut berperan ganda sebagai inovator sekaligus pengusaha yang memiliki visi global. Ia juga dituntut memiliki kemampuan politis untuk membawa perusahaan melewati liku-liku regulasi. Ia juga diharapkan mampu menjadi tenaga penjual baik kepada konsumen, karyawan maupun investor.

Masalahnya, seringkali dewan direksi tak bisa berbuat apa-apa meski mengetahui dan menyadari chief executive tak bisa berbuat seperti yang diharapkan. Mereka lebih banyak menunggu dan berharap tuntutan mengganti si bos datang dari pihak lain, terutama dari kalangan investor atau pemegang saham. Setelah muncul tuntutan itu, baru mereka membonceng di belakangnya.

Situasi dan kondisi ini biasanya muncul lantaran di kalangan dewan direksi muncul semacam pembenaran atau permakluman mengenai apa yang terkait dengan si bos. Perhatikan alasan-alasan seperti: si bos tak lama lagi pensiun, si bos adalah pendiri perusahaan, si bos adalah anak pendiri perusahaan, pergantian akan memberikan citra buruk bagi perusahaan, akan sulit menemukan penggantinya yang lebih baik atau malah menunjukkan kegagalan strategi bisnis perusahaan.

Bisakah memecat si bos ?
Terlepas dari perdebatan yang terjadi soal ini, terlihat kelemahan bahwa yang sering terjadi adalah peran chief executive disatukan dengan atau dimasukkan dalam struktur dewan direksi. Ini bisa dilakukan dengan memisahkan peran chief executive dan non-executive.

Peran terakhir itu akan lebih baik ditentukan dewan direksi, di mana keduanya bisa mengadakan pertemuan reguler tanpa dihadiri chief executive untuk mengevaluasi si bos. Bukan hanya mengevaluasi kinerjanya, tapi juga mengevaluasi apakah tuntutan-tuntutan yang diharapkan telah benar-benar dimiliki dan dijalankan serta hasil-hasil yang telah dicapai si bos.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah peran non-executive tadi harus benar-benar independen, dan bukan dipilih atas penunjukan chief-executive. Penentuannya mungkin akan lebih kuat apabila dewan direksi memiliki saham perusahaan bersangkutan. Dengan begitu, direksi dan pemegang saham kemungkinan besar bakal memiliki kepentingan dan pandangan yang sama tentang chief executive.

Soal Berhitung untuk Sekolah Dasar