Menjaga Hubungan Dengan Klien

Membina hubungan baik dengan klien memang diperlukan untuk menciptakan hubungan bisnis yang lancar dan saling menguntungkan. Untuk itu anda dituntut bersikap akrab dan hangat pada klien. Namun sudah bukan hal yang dirahasiakan lagi bahwa hubungan dengan klien yang berbeda jenis sering berkembang ke hubungan emosionil.


 
Tidak mudah memang, menjadi staf yang harus seringkali berhubungan dengan klien. Kalau tidak pintar membawa dan menjaga diri, anda akan mudah terjebak pada hubungan yang lebih privasi dengan klien (yang berlainan jenis). Apabila hubungan spesial antar klien ini terjadi pada mereka yang masih lajang, tentu bukan masalah besar. Karena setiap manusia yang belum berpasangan, berhak mengembangkan hubungan pribadi dengan siapapun yang juga berstatus lajang. Selama kedua belah pihak bisa membedakan mana urusan bisnis dan urusan pribadi, tentu saja tidak ada hal yang perlu dirisaukan.

Yang menjadi masalah adalah bila salah satu pihak memanfaatkan hubungan ini untuk kepentingan bisnis, terlebih jika pihak lainnya tidak menyadari. Kalau kasusnya seperti ini berarti telah terjadi ‘manipulasi emosi’ oleh salah satu pihak. Sehingga pihak yang menjadi korban bisa jadi mau melakukan apa saja demi keinginan klien yang telah membuatnya jatuh cinta. Misalnya memberi diskon di luar ketentuan, memberi bonus yang melebihi ukuran perusahaan, dll. Dan parahnya, kalau sudah kasmaran, anda ‘manut’ saja jika diminta membicarakan bisnis di tempat yang tidak semestinya, misalnya di hotel atau di tempat sepi lainnya. Kesimpulannya, anda menjadi tidak rasional lagi dalam mengambil keputusan bisnis.

Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah bila salah satu pihak atau keduanya sudah berkeluarga. Hubungan bisnis sekaligus hubungan pribadi yang terjalin menjadi semakin runyam. Jika hubungan ini tercium oleh atasan atau perusahaan, anda dan klien akan menjadi bahan gunjingan yang seru. Kalau perusahaan tidak bisa mentolerir tindakan ini, bisa-bisa anda dipecat karena dianggap mencemarkan nama baik perusahaan. Belum lagi anda akan menghadapi protes dari keluarga, rekan-rekan, dan orang-orang di sekeliling anda. Singkat kata, nama baik anda akan tercemar seketika. Anda akan dianggap memanfaatkan hubungan bisnis demi nafsu atau kepentingan pribadi. Affair yang tidak sehat ini jelas-jelas akan banyak merugikan daripada menguntungkan.

Nah kalau posisi anda sebagai staf yang harus sering berhubungan dengan klien, ditambah status anda yang sudah tidak lajang (bertunangan atau berkeluarga), tentu anda tidak ingin terjerumus pada affair bisnis yang menyesatkan bukan? So, untuk menghindari hubungan yang lebih ‘menjurus’ anda harus lebih mewaspadainya. Mungkin tips singkat ini berguna bagi anda:

* Pilihlah busana yang mengesankan profesionalisme, sopan, dan tidak menggoda, setiap kali bertemu dengan klien. Carilah tempat pertemuan yang tidak membuka peluang untuk membicarakan atau melakukan hal-hal yang bersifat lebih pribadi.

* Kalau perlu libatkan orang lain yang masih ‘nyambung’ dalam melakukan negosiasi bisnis, misalnya rekan kerja anda atau bahkan atasan anda. Jadi pembicaraan bisnis ini bukan hanya dilakukan oleh anda dan klien.

* Sewaktu berbicara berhati-hatilah pada setiap ucapan anda. Hindari percakapan yang terlalu pribadi dan jangan melontarkan humor yang ‘menjurus’. Sebaliknya jangan meladeni ucapan atau humor klien yang bersifat pribadi. Pilihlah kata-kata yang tepat dan dapat menyiratkan penolakan terhadap ‘perselingkuhan’ atau hubungan yang lebih pribadi. Kesimpulannya, ciptakan komunikasi yang wajar dan profesional.

* Secara tidak langsung tunjukkan status pribadi anda, bila anda sudah berkeluarga. Misalnya, “Setelah pertemuan ini saya akan langsung pulang karena anak dan suami saya sudah menanti..” Hal ini bisa dijadikan ‘tameng’ untuk menolak ajakan yang lebih jauh.

Tentu saja, kiat-kiat di atas bukan hal mutlak untuk menjamin terhindarnya anda dari hubungan istimewa dengan klien. Juga bukan patokan mutlak dalam menjamin kelancaran bisnis. Jangan sampai kejadian, karena terlalu berpatokan pada hal-hal di atas, anda justru kehilangan peluang berharga yang biasanya tidak datang dua kali. Bagaimanapun strategi bisnis yang ‘cerdas’ tetap harus dilakukan. Anda dituntut untuk lebih pandai melihat gelagat dan kemauan para klien. Dengan catatan anda tetap ‘waspada’ pada kemungkinan-kemungkinan yang buruk.

Tetapi kalau kasusnya anda berdua masih sama-sama lajang dan sama-sama jatuh cinta, nggak ada salahnya hubungan dilanjutkan. Asalkan anda bisa memberi batas yang tegas antara bisnis dan cinta. Selanjutnya sih tergantung pintar-pintarnya anda mengatur pertemuan bisnis dan pertemuan pribadi. Asal tidak ada yang dirugikan, why not…? Siapa tahu jodoh anda memang berawal dari hubungan bisnis...!