Menjadi Bos Berkat Takdir Atau Usaha

Apakah seorang pemimpin itu lahir berkat takdir atau usaha dan kerja keras? Dapatkah seseorang mempelajari keahlian untuk menjadi pemimpin?

Semua orang pasti akan menjawab kedua-duanya --walau sebetulnya, mungkin tak ada jawaban yang pasti untuk hal itu. Namun begitu, para ahli berhasil mendeteksi beberapa tindakan yang biasa dilakukan para pemimpin, yang mungkin bisa Anda dipelajari:


 
Membuat orang lain merasa penting
Bila tujuan dan keputusan para bos dan pemimpin terkesan self-centered dan memikirkan diri sendiri, pengikut atau bawahannya pasti akan cepat kehilangan antusias. Anda bisa mengadaptasi cara ini dengan membeberkan kekuatan dan kontribusi rekan-rekan Anda, bukan kelebihan Anda sendiri.

Menciptakan visi
Bawahan dan pengikut membutuhkan sebuah ide yang jelas tentang ke mana seorang pemimpin akan membawa mereka. Selain itu, mereka juga perlu mengerti nilai-nilai suatu tujuan bagi kepentingan mereka sendiri. Bila Anda ingin jadi pemimpin, tugas Anda adalah menyediakan visi itu.

Ikuti aturan
Perlakukan bawahan atau pengikut Anda dengan cara seperti Anda senang diperlakukan orang lain.

Akui kesalahan
Bila orang-orang curiga Anda menutupi kesalahan diri sendiri, mereka juga akan menutupi belang mereka. Dan, sebagai pemimpin, Anda akan kekurangan informasi berharga untuk membuat suatu keputusan penting.

Mengkritik orang lain hanya dilakukan secara pribadi
Jangan bikin kritik di arena terbuka, sebab hal ini akan melukai harga diri seseorang. Panggung publik hanya diperuntukkan untuk menyemangati orang, bukan memukul atau memalukan orang lain.

Jangan lepas tangan pada tindakan selanjutnya
Seorang pemimpin yang baik mestinya bukan cuma konseptor ulung. Ia harus berada dekat pada kegiatan yang dijalankan para bawahannya. Ia harus berbicara dengan orang-orang, mengetahui dengan pasti pekerjaan orang-orang, melancarkan pertanyaan, dan memikirkan bagaimana usaha itu dilakukan. Pikirkan kampanye presiden Amerika, dan tiru dalam skala yang lebih kecil. Tentu saja, untuk itu Anda perlu juga ketulusan hati.

Buatlah permainan yang kompetitif
Artinya, Anda tidak boleh menganakemaskan salah seorang pengikut. Dengan menyusun tujuan, dan membiarkan semua orang berpartisipasi dengan adil, Anda akan mendapatkan lebih banyak. Periksa kekeliruan-kekeliruan Anda, dan rayakan kesuksesan kelompok Anda.