Mengapa Lean Tidak Berhasil

Lean tidak berhasil...? Simak 12 Tanda Ketidak-stabilan Aliran Proses!



Anda merasa penerapan Lean di perusahaan tidak berjalan mulus? Atau program improvement yang selama ini dijalankan kurang memberikan hasil yang memuaskan? Mundur sejenak, berpikirlah terbalik dan pikirkan kira-kira apa yang membuat program tersebut berjalan menyimpang dari harapan. Daftar berikut mungkin akan membantu anda menemukan alasannya…

Menurut Lonnie Wilson, seorang Lean expert dan pengarang buku “How To Implement Lean Manufacturing”,  banyak organisasi yang gagal memperoleh hasil maksimal dari program Lean memiliki sistem kualitas yang lemah. Lebih spesifiknya, mereka gagal menemukan cara untuk menjaga aliran proses tetap stabil.

Jika organisasi anda memiliki satu atau lebih dari isu-isu yang dikemukakan Wilson dibawah ini, maka kemungkian anda akan (atau sedang) memiliki masalah (yang tidak kecil) dengan implemetasi Lean di organisasi anda tersebut. Sangat mungkin, root cause dari semua penyebab kegagalan terletak pada satu masalah saja: tidak memiliki aliran yang stabil pada takt.

12 tanda yang terlihat dari sistem kualitas yang lemah dengan aliran proses yang tidak stabil adalah:
  • Pada hari Senin departemen baru membuat susunan tugas yang harus dikerjakan pada minggu itu. Pada Selasa, mereka mulai mengubah dan menggeser jadwal-jadwal. Pada hari Rabu, mendadak karyawan diminta lembur.
  • Pada hari Kamis, barang dengan terburu-buru dikirim. Setelah akhirnya melewati semua kekacauan, pada hari Jumat beberapa pengiriman masih terlambat dan beberapa lupa dikirimkan.
  • Mereka tidak memiliki 99%-plus first time yield pada setiap area kerja. Lebih buruk lagi jika mereka bahkan tidak menghitungnya.
  • Rework adalah hal yang biasa.
  • Tidak hanya rework, mereka juga melakukan banyak pengulangan, seperti siklus “inspeksi – pemilahan – rework – pemilahan ulang – pengiriman” dalam proses produksi.
  • Lebih buruk lagi, banyak proses yang dirancang dengan sistem yang demikian.
  • Mereka memiliki banyak produk scrap, dan scrap tersebut dihitung dengan presentase, bukan dengan PPM.
  • Pertemuan dengan pelanggan mengkonsumsi sebagian besar waktu manajemen. Seringkali manajemen harus mengubah dan menyesuaikan jadwal sepanjang minggu untuk mengakomodir pertemuan dengan pelanggan.
  • Selalu ada yang mengisi 8D Problem Solving Worksheet.
  • Merespon komplain pelanggan menjadi agenda tetap dari manajemen dan topik tersebut selalu ada dalam meeting departemen produksi.
  • Hampir selalu ada barang yang sedang berada dalam inspeksi pihak ketiga, atau dalam quality containment.
  • Hampir selalu ada perdebatan antara mereka yang berada di divisi produksi dan quality, berkutat dengan “bagaimana produk akhir yang dapat diterima dan bagaimana yang tidak dapat diterima”.
  • Divisi produksi menganggap mereka yang berada di divisi quality berlebihan, dan seluruh tim manajemen berpikir bahwa spesifikasi yang diminta pelanggan terlalu tinggi, bahkan jika spek tersebut tidak berubah sejak RFQ.
Jika anda memiliki satu atau lebih dari daftar diatas dalam organisasi anda, sebaiknya segera benahi mulai dari akar permasalahannya, sehingga penerapan lean di lini produksi akan memberikan hasil yang maksimal.

Sumber: Industry Week.

Soal Berhitung untuk Sekolah Dasar