Maraknya Bisnis Terompet di Tahun Baru

Maraknya malam tahun baru agaknya tidak bisa dilewatkan begitu saja tanpa tiupan terompet. Memang tahun baru identik dengan terompet. Banyak yang menganggap acara tahun baru belum afdol tanpa lengkingan terompet. Maka tak heran jika sejak seminggu sebelum tahun baru, pedagang terompet menjamur dimana-mana, di pasar, mal, pinggir jalan, bahkan banyak juga pedagang terompet yang menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling.


 
Uniknya, acara tahun baru kali ini didahului dengan moment-moment penting seperti Hari Raya Natal dan Idul Fitri. Walhasil terompet juga dijual untuk meramaikan kedua hari raya tersebut. Jadi so pasti dagangan terompet kali ini laris manis diserbu pembeli yang terdiri dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa dan orangtua. Seperti yang terlihat di depan Ramayana Semper, Tanjung Priok. Pedagang terompet di tempat itu hampir tidak pernah sepi pembeli.

Rudi, salah satu pedagang terompet disana mengaku keuntungan ‘jualan’ terompet kali ini cukup lumayan. Lelaki 20 tahun ini, mengatakan sudah berdagang terompet sejak tanggal 23 Desember 2000. Setiap hari sejak 23 Desember sampai 31 Desember malam, ia menjual sekitar 100 buah terompet yang terdiri dari berbagai ukuran, ada yang besar, sedang dan kecil. Terompet berukuran besar dijual dengan harga 8000 rupiah, yang sedang 5000 rupiah, dan yang kecil cuma 1000 perak.

Rudi mengaku terompet-terompet itu hasil buatannya sendiri. Ia khusus membuatnya untuk menyambut tahun milenium ketiga. Bahkan ia sudah merakit terompet-terompet-nya sejak sebulan sebelumnya, dibantu oleh dua orang temannya. “Setiap hari ada saja pembeli, cuma kayaknya pembeli paling ramai pas 31 Desember 2000. Sejak sore pembeli sudah banyak yang datang,” katanya. Ramainya pembeli menurutnya juga tak terlepas dari lokasi. Di depan Ramayana Semper, pengunjung memang cukup padat. Mereka yang rata-rata penduduk Tanjung Priok dan sekitarnya berduyun-duyun mengunjungi Ramayana untuk berbelanja kebutuhan hari raya.

“Kalau ingin masuk ke Ramayana, otomatis mereka akan melewati dagangan ini. Kalau tertarik mereka pasti akan membeli, apalagi kalau mereka membawa anak-anak,” tutur Rudi. Keuntungannya? “Sangat lumayan,” ungkapnya cepat. Menurut Rudi dalam sehari rata-rata pedagang terompet di tempat itu mengantongi keuntungan 30 ribu rupiah. Bahkan tanggal 30 Desember, keuntungannya mencapai 100 ribu rupiah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Roni pedagang lain di tempat yang sama. Tahun ini katanya, pembeli terompet cukup ramai. “Mungkin karena tahun baru berdekatan dengan Hari Natal dan Lebaran. Jadi orang-orang yang mau beli baju dan keperluan hari raya sekalian beli terompet,” kata Roni berasumsi. Sama seperti Rudi, ia mendapatkan keuntungan cukup lumayan. Katanya ia bisa mengantongi ‘laba’ sekitar 30 sampai 50 ribu setiap kali berjualan. Cuma bedanya, ia tidak membuat sendiri terompet-terompet itu, melainkan mengambilnya dari orang lain. “Saya cuma menjualnya. Jumlah terompet yang saya jual pun tergantung persediaan. Kadang saya bawa 100 atau 150 biji. Harga terompet ini berkisar 1000 sampai 10 ribu, tergantung besar kecil dan hiasannnya,” ungkap Roni.

Senada dengan Roni, Irwan juga menjual terompet-terompet yang ia ambil dari orang lain. Hanya saja ia tidak setiap hari berjualan di depan Ramayana Semper. Dalam seminggu sebelum tahun baru, ia berpindah-pindah tempat. “Tergantung tempat yang ramai aja. Kadang saya juga berkeliling menjualnya,” ujar lelaki yang tampak masih ‘bocah’ ini. Beda dengan Roni dan Rudi, Irwan enggan menyebutkan jumlah keuntungannya. “Pokoknya cukup lah buat nambah-nambah uang belanja.”

Mereka sepakat tidak mengenal persaingan yang sengit dalam berdagang. Meski di lokasi yang sama terdapat sekitar 10 pedagang terompet, mereka menganggapnya hal biasa dalam berdagang. Toh di luar ‘moment’ tahun baru mereka bukan pedagang terompet. Ada yang sehari-harinya pedagang buku dan majalah bekas, pedagang sayur, tukang parkir, tukang ojek, dan lain-lain. Pendek kata, mereka berjualan ‘sesuatu’ disesuaikan dengan peristiwa penting. Bahkan selama bulan puasa ada yang ikut berjualan petasan dan ketupat.

Kesimpulannya, apapun akan mereka ‘jual’ demi menambah pendapatan. Ternyata mereka cukup kreatif juga ya dalam berdagang? “Asal kan halal,” cetus mereka kompak. Semangat mereka cari untung, bisa juga tuh ditiru.