Kompetensi, Faktor Terpenting SDM

Bagi seorang konsultan manajemen sekelas Nani Koespriani tentu banyak cara untuk melakukan terobosan. Dan tak sulit mengorek keterangan dari wanita yang kini dipercaya untuk membidangi manajemen Trans TV, sebuah stasiun TV swasta yang tidak lama lagi akan melakukan siaran percobaan.
 

Secara umum seorang ahli atau konsultan manajemen akan mengatakan bahwa proses menciptakan SDM yang unggul antara lain bisa diciptakan dengan pola pendekatan manajemen yang lazim dikenal dengan Merit System. Tetapi yang terjadi saat ini, menurut Nani, seiring dengan merebaknya arus globalisasi yang tak terbendung adalah pola pendekatan melalui Competence Base, lebih didasarkan pada kompetensi (kemampuan/keahlian)dan kinerja yang luar biasa. Karenanya, kompetensi itu konon bagaikan sebuah gunung es, yang tidak muncul di permukaan, tetapi justru lebih besar dari yang terlihat.

Pola pendekatan tersebut secara berulang-ulang ditegaskan Nani. Menurut alumni Graduate School of Public and Business Administration Univesity of Denver, Colorado, USA dan peraih gelar MBA Finance ini, tidak berlebihan pola tersebut segera diterapkan. Karena, akan tercipta keunggulan kompetitif dari masing-masing SDM dalam sebuah lembaga usaha maupun organisasi.

Nani menambahkan, melalui pendekatan tersebut akan tercipta keunggulan kompetensi yang pada gilirannya akan menghasilkan SDM yang bagus, prima dan berkompetensi tinggi. Selain itu, juga secara tidak langsung akan mengeliminir fungsi birokratis akibat jabatan struktural.
Dosen program Magister Manajemen, Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini juga menambahkan dalam Competence Base maupun Merit System pada dasarnya bukan hanya merupakan sistem perekrutan, namun lebih pada approach atau ancangan yang digunakan dalam manajemen SDM, terutama dalam pengembangan SDM.Sehingga, lanjut ibu dari anak semata wayang - Brynerio, implikasinya, semua sistem dalam Human Resources Management, selalu dikaitkan dengan kompetensi.
 


"Jadi bukan pada jabatan struktural lagi. Misalnya di divisi News: seorang jurnalis yang kompetensinya tinggi dapat saja mendapat penghargaan setingkat manajer senior, tanpa harus menjabat sebagai manajer senior," urai wanita kelahiran Bandung 30 Januari 1955 yang saat ini menjabat Human Resource Management Head PT Televisi Transformasi Indonesia.

Pola ini tambah istri Mustaf Dahlan, juga akan memunculkan sistem penilaian yang obyektif dan fair terhadap masing-masing individu. Sehingga, reward dan bentuk kompensasi lainnya yang diterima masing-masing individu bukan dikaitkan dengan jabatan yang disandang, melainkan pada kompetensi masing-masing individu yang mencakup antara lain kepintaran, kemampuan serta kapabilitasnya.

Untuk itu di tempat kerjanya yang baru, pengajar tamu pada program MM Perbankan dan Keuangan ITB yang juga merupakan tempat kuliahnya dulu (Nani alumni ITB- jurusan Planologi-red)langsung menerapkan konsep pengembangan SDM yang terencana. Melalui program pengembangan Technical Skill, Culture Development dan Team Work.

Sebagai orang yang ahli dalam bidang finance namun lebih suka mengurus orang dengan berbagai karakter ini ketika disinggung mimpinya dalam memimpin dan mengantar SDM meraih posisi puncak, mengungkap bahwa dia akan bangga ketika SDM yang dibinanya setelah sukses kemudian dibajak orang.

Wanita yang aktif sebagai pengurus Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan juga anggota American Compesation Association (ACA) yang sekarang dikenal dengan Global Remuneration Organization (GRO) ini mengatakan di Indonesia penerapan Competence Base agak baru diterapkan perusahaan nasional bila dibandingkan dengan perusahaan patungan asing.
Ketika disinggung kehidupan pribadi dan keluarganya, wanita ini rupanya bersemangat menuturkan kekompakan yang terbina dalam kehidupan keluarganya. Coba simak, mulai dari main tenis bersama, makan bersama, libur bersama serta kebersamaan-kebersamaan lainnya.
 

Bagi penganut falsafah bekerja adalah belajar dan tidak pernah menolak setiap pekerjaan, hidup harus menganut keseimbangan sehingga keluarga ini juga selalu meluangkan waktu dengan mengumpulkan anak yatim piatu di Condet-Jakarta Timur dan mengajar mereka di rumah seorang relawan. Sesuai dengan kemampuan peran masing-masing yang saat berkunjung bertindak sebagai guru. Suaminya sebagai guru bahasa Inggris, istri sebagai guru matematika dan anak bertindak sebagai teman diskusi.

"Kadang, setiap cawu memang saya membawa anak yatim piatu itu ke tempat yang sifatnya edutaintment (belajar sambil rekreasi), misalnya Planetarium, Musium Nasional, Taman Safari dan Dunia Fantasi. Sementara, dalam kunjungan ke luar negeri, saya biasanya hanya membawa anak saya sendiri, meskipun tujuannya sama, yaitu rekreasi sambil mendidik. Misalnya saya perkenalkan anak saya pada tempat-tempat bersejarah di Maroko, Israel, Kuwait, Demak, Garut dan lain-lain," kata Nani. Itulah, serpihan jiwa sosial wanita yang mengaku sangat peduli terhadap anak-anak karena anak menurutnya merupakan generasi penerus bangsa. Untuk itu harus menjadi generasi yang cerdas.

(Nani Koesprian)