IPK dan Dunia Kerja

“Di cari fresh graduate dengan IPK min 3,00”. Anda pasti pernah atau bahkan sering membaca iklan lowongan kerja dengan persyaratan jumlah IPK tertentu seperti itu. Hal tersebut banyak dipertanyakan oleh mahasiswa, khususnya mengenai relevansi IPK tinggi dengan aplikasi di dunia kerja. Mahasiswa beralasan bahwa tidak selamanya IPK yang tinggi bisa menjamin sukses di dunia kerja. Bahkan banyak pekerja yang memiliki IPK di bawah 3,00 atau bahkan memiliki IPK yang pas-pasan tetapi nyatanya bisa survive di dunia kerja.


Dalam seminar ‘Persiapan Menghadapi Dunia Kerja 2001 di FEUI Depok’, Sugiyanto, Ph.D, General Manager PP SDM Texmaco, mengatakan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang baik tetap diperlukan dalam memasuki dunia kerja. Alasannya, IPK merupakan bukti pertama kelulusan anda dari sebuah perguruan tinggi. IPK dengan jumlah yang baik menunjukkan bahwa anda memiliki knowledge yang baik pula. Sebaliknya IPK yang rendah ataupun pas-pasan menunjukkan bahwa anda kurang serius dalam belajar dan kurang menguasai ilmu pengetahuan yang diberikan selama anda duduk di bangku kuliah.

Sugiyanto melanjutkan, “Tetapi memang, untuk selanjutnya IPK tidak terlalu berpengaruh. Kalau IPK tinggi tetapi dalam bekerja anda tidak bisa menunjukkan prestasi kerja ya sama aja bohong. Jadi, saat anda sudah memasuki dunia kerja, anda tidak bisa berpatokan pada IPK yang telah anda peroleh. Jika karir anda ingin lebih baik maka anda perlu mengasah kompetensi dan keahlian anda, terlepas dari berapapun IPK yang anda miliki.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Sunardji Wakil Dekan I FEUI, bahwa pada kenyataannya ada juga mahasiswa yang IPK nya tidak terlalu tinggi tetapi sebetulnya ia adalah mahasiswa yang pandai. Menurut Sunardji, umumnya kondisi tersebut disebabkan semasa kuliah mahasiswa banyak berkecimpung dalam organisasi kemahasiswaan, aktif di senat mahasiswa, sibuk magang di perusahaan, dan sibuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga waktu untuk belajar semakin sempit. Akibatnya, nilai akademis yang diperoleh oleh mahasiswa tersebut pun hanya pas-pasan.

Nah anda yang memiliki problem IPK pas-pasan atau katakanlah IPK anda tidak begitu tinggi, jika anda ingin memasuki dunia kerja, anda harus menonjolkan kelebihan anda yang lain dalam Curriculum Vitae (CV) anda. “Tonjolkan kelebihan anda dalam organisasi, pengalaman magang, maupun kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang,” himbau Sunardji. Begitu juga saat interview, jangan ragu untuk mengungkapkan kelebihan anda selain IPK. Tunjukkan bahwa kemampuan anda yang sesungguhnya lebih baik dibandingkan IPK di atas selembar kertas. Toh selain kemampuan akademis, kemampuan anda bersosialisasi juga patut diperhitungkan.

Sugiyanto menambahkan, bahwa IPK memang persyaratan awal untuk bersaing di dunia kerja. Selanjutnya tergantung kemampuan anda mengaktualisasikan diri di bidang tertentu. So, dunia kerja bukanlah dunia yang menakutkan. Kalau anda punya kemampuan, keahlian, dan kecakapan dalam organisasi percayalah kesuksesan karir akan berada dalam genggaman anda. Tapi biar bagaimanapun, jangan abaikan IPK. Jangan mentang-mentang anda sibuk di kegiatan yang lain, anda sampai lupa belajar sama sekali. Pokoknya usahakan untuk mencapai IPK yang baik, sekalipun anda aktif di berbagai kegiatan.