Gangguan Jiwa Pasca Melahirkan

Menurut Bunda, apakah masa nifas adalah periode penuh stres secara emosional, di samping masa kehamilan ?

Masa nifas dirasa berat ditandai dengan emosi yang labil dan mudah tersinggung. Perubahan mood atau feeling blue dapat terjadi beberapa minggu setelah melahirkan.

Seorang bunda dapat mengalami frustasi atau sedih tanpa sebab yang jelas. Hal tersebut yang menjadi dasar adanya kelainan psikologis pada masa nifas.

Gangguan kejiwaan yang dapat terjadi beberapa minggu setelah persalinan, di antaranya sbb.

1. Postpartum blues

  • Postpartum blues atau yang biasa kita kenal dengan baby blues, adalah gangguan mood yang menyertai suatu persalinan. 
  • Sekitar 10-17 % wanita mengalami babyblues umumnya disebabkan karena perubahan hormon. Babyblues biasanya terjadi dari hari ke-3 sampai hari ke-10 pasca melahirkan. 
  • Sang bunda dapat menangis, mudah tersinggung, cemas, sedih, dan menjadi pelupa. Hal yang dialami bunda tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kesehatan bunda atau bayi, pemberian ASI atau susu formula, atau komplikasi persalinan. 
  • Gangguan Babyblues jarang terjadi jika ada dukungan lingkungan sekitarnya untuk membantu mengurus bayi yang baru dilahirkan.  
  • Babyblues juga lebih sering terjadi pada lingkungan keluarga dimana seseorang tidak bebas mengutarakan perasaannya.

2. Postpartum Depression

  • Postpartum Depression atau disebut depresi pasca melahirkan, adalah sindroma depresi non psikotik yang dapat terjadi pada persalinan ataupun kehamilan. 
  • 10-15% bunda nifas dapat mengalami depresi ini. 
  • Depresi pasca melahirkan harus dibedakan dengan depresi psikotik, dimana pada depresi psikotik terdapat gangguan menilai realitas yang berat, halusinasi, waham, disertai pembicaraan dan tingkah laku yang kacau. Sedangkan pada depresi pasca melahirkan, gejalanya berupa perubahan mood, gangguan pola tidur, gangguan makan, gangguan konsentrasi, ataupun gangguan libido, kadang disertai pula dengan fobia atau ketakutan. 
  • Depresi pasca melahirkan dapat terjadi beberapa minggu atau bulan setelah persalinan. 
  • Depresi pasca melahirkan cenderung mengalami kekambuhan pada kelahiran anak berikutnya.
  • Terapi depresi pasca melahirkan mencakup dukungan keluarga dan lingkungan terhadap bunda usai melahirkan, psikoterapi, dan obat anti depresi.Konsultasikan kepada Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (SpKJ) untuk mendapatkan terapi yang tepat mengingat beberapa obat anti depresi memberikan pengaruh bila bunda aktif menyusui.
  • Jika bunda mengalami depresi yang berat sampai terdapatnya keinginan untuk bunuh diri, maka bunda dapat dirawat di rumah sakit.

3. Psikosis pasca persalinan

  • Hanya 1-2 orang kasus psikosis pasca persalinan pada 1000 kelahiran bayi. 
  • Psikosis postpartum merupakan gangguan mental yang berat di mana sang bunda dapat melukai dirinya sendiri atau bahkan bayinya.
  • Gejala psikosis persalinan berupa tidak dapat tidur, mudah tersinggung, adanya gangguan menilai kenyataan, halusinasi, di mana tidak ada gangguan organik pada sang bunda.
  • Psikosis post partum memerlukan perawatan yang serius.
  • Dapat terjadi beberapa hari setelah persalinan sampai 4-6 minggu.

Sebenarnya pada perawatan antenatal saat memeriksakan kehamilan, faktor risiko terjadinya gangguan kejiwaan setelah melahirkan dapat dicari dengan adanya komunikasi yang baik antara petugas kesehatan, Dokter Spesialis Kandungan, dan sang bunda ataupun keluarga.

Hal ini sangat berguna untuk mengantisipasi bunda hamil tersebut agar tidak terjadi gangguan kejiwaan setelah melahirkan, misalnya Dokter dapat memberikan saran atau psikoterapi oleh Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa/Psikiater jika diperlukan.

Adapun faktor risiko terjadi gangguan kejiwaan pada bunda pasca melahirkan adalah sbb.

1. Adanya riwayat gangguan kejiwaan sebelum hamil

misalnya

  • gaya hidup menyendiri,
  • pernah mengalami pelecehan seksual, 
  • adanya penggunaan narkoba, atau 
  • pernah mengalami kekerasan fisik dan emosional.

2. Adanya riwayat gangguan kejiwaan pada kehamilan sebelumnya

  • Gangguan kejiwaan pasca persalinan,
  • depresi post partum, cenderung mengalami rekurensi atau kekambuhan pada persalinan berikutnya.

3. Adanya problem psikologis yang pernah dialami

misalnya

  • riwayat berpisah dengan orangtua yang terlalu awal, 
  • kesulitan untuk berpisah dengan orangtua, 
  • masalah dengan keluarga saat persalinan, 
  • kematian keluarga atau sahabat dekat pada saat kehamilan atau persalinan, 
  • adanya konflik tentang pengasuhan anak.

4. Riwayat reproduksi yang buruk

misalnya

  • riwayat kesulitan dalam kehamilan dan persalinan sebelumnya, 
  • riwayat kematian janin dalam kandungan/Intrauterine fetal death atau kematian bayi segera setelah lahir,
  • riwayat kelahiran cacat pada bayi,
  • riwayat infertilitas atau kemandulan, 
  • riwayat keguguran (abortus) berulang, atau 
  • riwayat hiperemesis (muntah-muntah berlebihan ketika hamil).

Jika bunda hamil dengan faktor risiko di atas, sebaiknya pihak keluarga dan tenaga kesehatan, mempersiapkan bunda hamil tersebut meningkatkan kepercayaan dirinya untuk menghadapi persalinan, menemani (assistance) ibu hamil agar ia tidak merasa 'sendirian', dan memberikan dukungan pada saat hamil, bersalin, dan nifas.

Kasih sayang sangat dibutuhkan sang bunda dalam menghadapi persalinan, suatu perubahan besar dalam hidup seseorang.

Semoga bermanfaat, ya, Bunda.


Soal Berhitung untuk Sekolah Dasar