Dari Kertas Bekas, Sucipto Jadi Raja

Ayahnya hanya seorang petani miskin. Karena itu, sejak kecil Sucipto sudah terbiasa kerja keras. Nasibnya berubah setelah menjadi pengumpul kertas. Ia merasa bangga karena berhasil mewujudkan cita-cita bapaknya: hidup enak, dari kertas bekas. Anda mau tau kiatnya?


 
Punya deposito miliaran rupiah, tanahnya tersebar di mana-mana, sementara rumahnya ditaksir lebih dari setengah miliar. Belum terhitung puluhan truk, mobil pick-up, serta beberapa mobil pribadi. Kendati sekarang berhasil mewujudkan cita-cita ayahnya, seorang petani miskin yang menginginkan anak-anaknya hidup enak, Noto Sucipto tetap rendah hati. Maklum, sebelum menjadi pengusaha pengumpul kertas bekas ia hanya seorang kuli panggul di stasiun kereta Tugu, Yogyakarta. Bahkan, ia pernah menjadi buruh tani dan kuli gendong.

saha mengumpulkan kertas bekas dirintisnya 1979. Dengan modal Rp 300.000, pinjaman dari tetangganya, Sucipto mulai membeli kertas bekas dari para pemulung. Kecil, memang. Tapi buat lelaki yang lahir dari keluarga miskin di pelosok Gunung Kidul, Yogya, utang itu terasa besar. Soalnya, sebagai kuli panggul yang berpenghasilan tidak menentu, Sucipto harus mengembalikan pinjaman itu dengan anakan (bunga) 10%. "Tidak seperti kuli panggul zaman sekarang, waktu itu belum banyak orang yang mau menggunakan jasa kuli di stasiun kereta," katanya.

Satu-satunya modal untuk memulai usaha sebagai pengepul, selain uang pinjaman, hanya kerja keras dan keyakinan akan berhasil. Berangkat dari keyakinan tersebut, anak kedua dari lima bersaudara ini berani meninggalkan pekerjaan kuli panggul yang sudah ditekuninya sejak 1958. Hasilnya luar biasa. Dengan dukungan para tetangganya, yang juga berprofesi sebagai pemulung, Sucipto dalam sehari bisa mengumpulkan kertas bekas sebanyak 10 ton. "Waktu itu untung bersihnya sehari bisa mencapai Rp 70.000," kata Sucipto. Keruan saja hatinya berbunga-bunga. Sebab, ketika masih jadi kuli, penghasilannya cuma Rp 5.000 sehari.

Kerja keras sebagai pengumpul kertas bekas yang dilakoni hingga sekarang ini memang tak sia-sia. Sekarang, 21 tahun kemudian, UD Pusaka milik Sucipto rata-rata setiap harinya mampu mengumpulkan 30 ton kertas bekas. Kertas bekas HVS yang masih bersih harga per kilonya sekitar Rp 3.200, HVS yang sudah ada cetakannya Rp 1.500, sedangkan koran bekas dan kardus dijual Rp 500 - Rp1.000. "Kalau sedang ramai bisa mencapai 40 ton sehari," katanya. Dengan harga sekitar Rp 1,3 juta, berarti omzet Sucipto mencapai Rp 40 juta per hari. Sementara keuntungan yang masuk ke kantongnya antara 15% hingga 20%.

Dari hasil menjual kertas bekas itu, 1995, Sucipto membeli tanah seluas 1.600 M2 untuk membangun gudang baru. Gudang baru ini mampu menampung kertas bekas sebanyak 500 ton. Kebutuhan gudang ini sejalan dengan makin banyaknya setoran kertas, baik langsung dari pemulung, pengepul, langsung dari kantor-kantor, penerbitan, atau koran dan majalah bekas yang tidak terjual di pasaran. "Bahkan, pengepul dari Cilacap, Purwokerto, Gombong, Magelang, Purworejo, dan Solo pun rajin mengirimkan paket kertas bekas ke sini," kata Sucipto bangga.

Di bawah UD Pusaka, Sucipto kini mampu mempekerjakan 10 orang supir dan 24 orang karyawan. Untuk supir, Sucipto menggaji setiap bulan Rp 175.000 plus uang harian Rp 23.000. Sedang karyawan gudang tugasnya adalah menyortir kertas dan mengangkutnya ke mobil. Mereka setiap hari menerima upah Rp 20.000 ditambah uang bulanan Rp 90.000. Karena merasakan susahnya bekerja sebagai kuli, tak heran bila Sucipto sebagai juragan ikut pula mengangkat-angkat kertas bekas bersama kuli lainnya. Rupanya, pengalaman menjadi kuli tak membuatnya menjadi sombong karena statusnya sebagai orang kaya baru.