Bolehkah Wartawan Terima Amplop

Bagi anda para wartawan tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah 'wartawan amplop'. Karena sudah menjadi rahasia umum, wartawan kerap kali mendapatkan amplop dari nara sumber. Tentu saja amplop tersebut berisi sejumlah uang, bukan berisi surat, dokumen ataupun kertas.

 

 


Tetapi masalahnya, selama ini masih banyak yang mempertanyakan boleh nggak sih wartawan menerima amplop? Jawabannya ternyata sangat relatif dan individual. Selain tergantung peraturan media yang bersangkutan, ini juga tergantung wartawan secara pribadi. Karena ada seorang wartawan, meskipun media tempatnya bekerja tidak melarang menerima amplop, tapi secara pribadi ia ogah menerimanya dengan alasan tidak etis dan sebagainya. Sementara ada juga wartawan yang nekat menerima amplop walaupun medianya tidak mengijinkan.

Selama ini kontroversi amplop di kalangan wartawan memang tidak transparan. Banyak kalangan yang segan membicarakannya secara terbuka. Sedangkan di kalangan praktisi kehumasan menganggap bahwa masalah amplop bagi wartawan bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan. Tetapi secara garis besar, amplop untuk wartawan ada dua jenis, yaitu amplop sebagai suap dan amplop sebagai uang transport. Apa sih maksudnya?



* Amplop sebagai suap
Biasanya amplop jenis ini bertujuan agar wartawan tidak menulis berita yang berasal dari informasi ataupun kasus buruk yang sedang dialami oleh narasumber atau suatu lembaga. Karena jika berita tersebut sampai ditulis, citra seseorang ataupun lembaga pasti akan jatuh. Jadi amplop jenis ini bertujuan untuk membungkam wartawan agar tidak menyampaikan berita buruk tentang suatu kasus. Namun, hanya wartawan bermental buruklah yang mau menerima amplop jenis ini.

Wartawan dengan integritas yang tinggi umumnya tidak mau menerima amplop suap. Selain melanggar kode etik, resiko ditegur bahkan dipecat dari media yang bersangkutan sangat besar. Memang, biasanya sanksi bagi wartawan yang menerima suap sangat keras. Walau demikian, tidak sedikit wartawan yang nekat menerima amplop suap demi kepentingan pribadi. Tapi jangan salah, amplop berlatar belakang suap ini bukan hanya terjadi di kalangan oknum wartawan, tetapi juga banyak terjadi di kalangan profesi lain seperti hakim, jaksa, bahkan menteri. Dan karena amplop ini bertujuan negatif, siapapun pasti mengecam amplop jenis ini.

* Amplop sebagai uang transport
Amplop yang satu ini tidak ada hubungannya dengan suap menyuap, karena pemberiannya tidak berhubungan dengan suatu kasus yang dihadapi seseorang ataupun lembaga. Amplop transport ini biasanya diberikan oleh seseorang atau lembaga humas kepada wartawan dalam acara jumpa pers. Dan umumnya amplop ini sudah dianggarkan oleh pihak panitia sebagai pengganti uang transport.


Namun ada juga narasumber yang memberikan amplop secara pribadi pada wartawan sebagai ucapan terima kasih atas pemberitaannya. Walau demikian, ternyata tidak semua wartawan mau menerima amplop jenis ini dan tidak semua media mengijinkan menerima amplop walaupun bukan bertujuan suap. Umumnya wartawan yang tidak mau menerima amplop ini selain karena medianya melarang keras, sebagian wartawan secara pribadi juga tidak mau menerima dengan alasan kurang sreg dan tidak sesuai dengan prinsipnya.

Nah, anda para wartawan bagaimana menyikapi pemberian amplop ini? Tentu semua ini tergantung anda dan peraturan media anda bekerja. Kalau media anda menggariskan kebijakan secara tegas dengan melarang menerima imbalan apapun dari luar yang berhubungan dengan pemberitaan baik suap maupun bukan, maka anda harus mematuhi kebijakan itu secara tegas pula. Tetapi kalau media mengijinkan sementara anda oke-oke aja, ya nggak dosa juga kalau menerima. Yang penting kan jangan memaksa meminta apalagi sampai mengancam akan menulis berita buruk kalau tidak diberi.

Namun untuk 'amplop suap' tentu saja anda harus lebih tegas lagi menolak. Karena kalau anda berani menerima berarti anda juga harus berani dengan segala konsekuensi dan resikonya.

Soal Berhitung untuk Sekolah Dasar