Bila Perusahaan Dimerger Or Diakuisisi

Bila perusahaan tempat Anda bekerja dimerger atau diakuisisi, tentu akan ada beberapa penyesuaian, dan Anda dituntut untuk dapat menyesuaikan diri.



Pahami dinamikanya
Sejarah mencatat beberapa merger yang memperoleh banyak perhatian. Di antaranya, ketika Daimler dan Chrysler 'bersatu di altar'. Sebagai perusahaan yang sama-sama kuat, masing-masing berusaha menunjukkan kekuatannya di meja rapat.

Pada akhirnya, terlihat bahwa Daimler-lah yang memegang kendali. Tim manajemen senior dan standar perusahaan, lebih banyak dikuasai oleh perusahaan Jerman itu ketimbang rekannya dari Amerika. Hal ini, tentu saja menimbulkan perselisihan.

Uniknya, ketika pimpinan manajemen Chrysler dipegang orang Jerman, majalah Time beberapa waktu kemudian mengulas bahwa banyak karyawan dari Amerika yang memperoleh posisi penting --sebaik apa yang dilakukannya dalam pekerjaannya.

Ini menunjukkan bahwa asal perusahaan bisa saja tidak mempengaruhi posisi seseorang dalam sebuah perusahaan hasil merger atau akuisisi. Selama seseorang tampil prima dalam pekerjaannya, maka perusahaan akan menghargainya.

Barangkali contoh ini terlalu mengada-ada, karena kejadiannya jauh di luar Indonesia. Namun, di mana pun, selama ada akuisisi dan merger, pastilah akan ada penyesuaian dan pembentukan kultur baru, yang harus dicermati.

Apalagi yang harus dilakukan, bila hal ini benar-benar terjadi di perusahaan Anda?


Siapa bos Anda?
Kalau masih ingin bekerja di sana, kata para praktisi, Anda perlu tahu "pada siapa Anda harus melapor?" Kalau harus melapor ke banyak orang, mungkin lebih baik Anda berhenti. Tapi, sebelum Anda memutuskan berhenti, bukankah Anda bisa meminta untuk mempersempit bos Anda sendiri? Misalnya, Anda menawar untuk hanya melapor pada CFO dan CEO, atau CTO dengan CEO, dan sebagainya.

Memilih bos ini juga akan menentukan bagaimana performa Anda selanjutnya, karena dialah yang akan mengevaluasi dan mengusulkan kenaikan gaji --bila Anda memang berprestasi. Percayalah, kalau Anda pandai berdiplomasi dan menunjukkan kemampuan Anda, manajemen baru tak akan menolak permintaan Anda.


Kenali semua orang dengan baik
Suka atau tidak, konflik pasti terjadi di setiap perusahaan, walau Anda berusaha seramah mungkin. Sebab, memang ada saja orang yang punya sifat pemarah, jutek abis, dan tak pernah puas.

Orang-orang macam itu --baik yang datang dari perusahaan lama atau baru-- adalah orang-orang yang akan menjadi "bagian hidup" Anda.Tapi sekali lagi, kalau Anda tetap berniat bekerja di situ, fokus saja pada pekerjaan Anda. Nanti akan ketahuan siapa yang perform dan siapa yang tidak.

Salah satu cara termudah untuk mengenali semua orang adalah dengan mengambil inisiatif berteman. Tapi, hati-hatilah pada apa yang akan Anda katakan atau perbuat, sebab kesan pertama tak pernah datang dua kali.
(imaulana/M)