Bila Bos Kelihatan Paranoid

Karina memang sangat menyukai pekerjaan yang selama ini dia inginkan itu. Namun sebagai junior editor dalam sebuah perusahaan penerbitan, yang dilakukan sering menghadapi masalah dengan atasannya. Bahkan dia sering menganggap atasannya agak keterlalu ketat dalam “mengawasi” kerjanya. Akibatnya, ada kesan kalau si bos itu paranoid sehingga Karina menghadapi banyak tekanan.
 

Yang dihadapi Susan beda lagi. Posisi dia sebagai supervisor dalam sebuah perusahaan jasa ini sebenarnya banyak jadi incaran, pegawai lain. Susan pun melakukan pekerjaannya ini dengan penuh semangat. Namun, tidak berbeda dengan Karina posisi dia seakan-akan hanya sebagai “pengintai” anak buahnya. Sehaingga apa pun yang Susan kerjakan, sering membuat anak buahnya malah tidak menyukainya.
 
Dua wanita ini sebenarnya mengalami problem yang sama, yakni bekerja pada perusahaan yang kesannya selalu mengawasi secara penuh. Bahkan bisa dikatakan sebagai “paranoid management”. Padahal mereka tidak ingin menghadapi situasi demikian. Mereka sama-sama tidak ingin dikatakan suka mencari-cari kesalahanorang lain, dalam sebuah padang rumput yang luas. Sebaliknya, meraka juga jadi merasa tidak enak kalau ada yang mengawasinya dengan penuh curiga.
 
Banyak atasan yang kita kesankan sebagai paranoid tersebut tidak selamanya memang “parannoid” dalam arti sebenarnya. Bahkan ada di antara mereka yang sebenarnya menghadapi masalah karena kurang percaya diri, sehingga sering dilampiaskan dalam tindakan yang tidak jelas, seperti marah-marah tanpa sebab, atau bahkan terkesan mencari-cari kesalahan dari kita.
 
“Ketika Anda bekerja pada seseorang, setiap pekerjaan yang Anda lakukan merupakan pelengkap bagi atasan. Namun, ketika bos berfikir Anda tidak melakukan pekerjaan apa-apa, kita jadi menanggap dia jadi paranoid,” kata Kathy Aaronson, executive director sebuah perusahaan di New York. "Orang-orang seperti ini memang membutuhkan perasaan kalau dirinya suka mengontrol, jadi Anda harus menerima kenyataan ini.”
 
Dalam praktik sehari-hari, konsultan karir atau konsultan kerja selalu bilang bahwa bos-bos yang paranoid bisa kerja dengan sangat sukses. Rata-rata mereka memang berhasil dalam karirnya. Jadi mereka perlu kita “kuasai” agak bisa sukses dengan seperti orang yang sering kita sebut “paranoid” itu. Lalu bagaimana kita harus mengendalikannya?
 
Pertama, yang harus diingat bahwa bos adalah bos. Bahkan dalam konsep, maupun dalam situasi yang sangat tidak masuk akal. Jadi, sebaiknya Anda bisa membuat setiap pekerjaan yang bisa dipercaya oleh atasan. Jangan sekali-sekali menampilkan perilaku yag bisa membuat bos Anda tidak percaya. Apa yang dilakukan ini bukan berarti kita hanya bisa berkata ya, kepada bos. Anda bisa berkata tidak, bila bos memang salah tapi tetap dengan sikap bahawa bos bisa mempercayai Anda.
 
Cara lain yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah, misalnya selalu memberikan informasi kepada setiap supervisor Anda akan masalah tentang pekerjaan atau informasi lain yang memang sangat dibutuhkan tiap saat. Pokoknya dengan “keep inform” ini, memang hal paling penting, bahkan mungkin di saat anda sedang berlibur. Informasi bisa anda kirimkan lewat email atau telepon.
 
Bila anda menemukan atasan dalam keadaan bad mood, atau lagi ruwet jangan sesekali malaha menjauhi dan berusaha menutup diri. Tetaplah bersikat seperti biasa. Mungkin anda bisa meninggalkan pesan dengan menulis memo, serta mengirimkan copynya ke perusahaan.
Nah, masalah yang menghadapi Susan Karina tadi memang berbeda. Namun sebenarnya intinya teteap sama, yakni sama-sama merasa tidak karena selalu diawasi dan terkesan mengawasi. Dan inilah yang sering terjadi dalam masalah perusahaan. Jadi anggaplah itu bukan pengawasan atau diawasi, tepi sebuah kerjasama yang dibutuhkan dalam pekerjaan.

Soal Berhitung untuk Sekolah Dasar