Beda Majikan dan Pemimpin

Sekilas menjadi pemimpin kedengarannya enak. Karena pemimpin itu punya kedudukan, punya gaji besar, dan punya sejumlah anak buah yang selalu siap diperintah ini itu. Umumnya pemimpin pun selalu dihormati dan mendapat apresiasi yang tinggi di mata rekan-rekan dan anak buahnya. Maka jangan heran kalau selama ini banyak yang berangan-angan jadi pemimpin di kantor. Entah itu pemimpin suatu divisi, pemimpin tim kerja, apalagi pemimpin perusahaan.


Padahal sesungguhnya jadi pemimpin itu nggak gampang loh. Terlebih pemimpin di level teratas seperti Presiden Direktur atau Chief Executive Officer (CEO). Untuk menjadi pemimpin teratas tentu saja membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Tanggung jawab yang diembannya pun tidak sedikit. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu menggiring perusahaan mencapai kesuksesan dan kemajuan bersama dan harus bisa menjadi tokoh panutan bagi anak buah yang dipimpinnya. Karena itu pemimpin harus menjaga performa, sikap, tindakan, dan tutur kata. Toh, sesulit-sulitnya menjadi pemimpin, masih tetep aja banyak orang yang bermimpi jadi pemimpin.

Banyaknya orang yang berangan jadi pemimpin disebabkan oleh pikiran bahwa pemimpin adalah orang yang selalu disegani, dihormati, disanjung bahkan dipuja. Jika tujuan anda menjadi pemimpin hanya untuk mendapatkan segala macam sanjungan dan puja-puji, anda tidak akan pernah mampu menggiring anak buah mencapai tujuan bersama. Anda hanya berfungsi sebagai majikan bukan pemimpin. Loh kok? Emang apa bedanya pemimpin dan majikan…?

Sepintas pemimpin dan majikan tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama orang nomer satu di dalam wadah yang dipimpinnya. Tapi jangan salah lho, ada perbedaan mencolok antara pemimpin dan majikan. Coba ingat baik-baik, seorang majikan lebih berorientasi pada kepentingannya pribadi sedangkan pemimpin berorientasi pada tujuan dan kepentingan bersama.

Seorang majikan merupakan pemimpin yang suka memerintah untuk kepentingannya pribadi, kadang-kadang dengan dalih untuk kepentingan bersama. Ia pandai memanfaatkan anak buah untuk mencapai apapun yang diinginkannya. Ia juga selalu merindukan puja-puji dan sanjungan, tanpa peduli ia layak disanjung atau tidak.

Parahnya seorang bermental majikan tidak suka mendengar saran, kritik dan pendapat dari anak buah. Ia lebih suka kalau anak buah lah yang mendengarkan dan menerima pendapatnya. Hal ini disebabkan karena majikan memiliki tujuan pribadi bukan tujuan bersama. Seorang majikan ingin apa yang dilakukan anak buahnya akan memberi keuntungan pribadi bagi dirinya. Sebaliknya, seorang pemimpin sejati selalu memikirkan kepentingan dan kemajuan bersama.

Jadi, pada prinsipnya seorang pemimpin bukanlah majikan. Begitu juga majikan bukanlah seorang pemimpin. Meski keduanya sama-sama memiliki konsep orang nomor satu, namun keduanya berbeda dalam cara pandang, sikap dan tingkah laku. Nah coba sekarang perhatikan deh bos anda di kantor? Apakah ia seorang bermental majikan atau pemimpin sejati..? Kalau bos anda seorang pemimpin sejati, beruntunglah anda!