Anggapan Stereotype Pemimpin Wanita

Bagi mayoritas kaum pria, wanita adalah makluk lemah yang selalu butuh perlindungan lelaki. Makanya banyak yang menganggap bahwa wanita tidak layak menjadi pemimpin. Memang, pada kenyataannya banyak yang lebih 'sreg' jika dipimpin oleh kaum pria. Baik dalam organisasi kecil apalagi besar, seperti negara. Dengan alasan bahwa pria lebih kuat, lebih rasional, lebih cekatan, dan lebih pintar.

Padahal kalau mau bicara soal sejarah mandat kepemimpinan wanita, daftarnya bisa sangat panjang. Coba anda ingat nama Ratu Cleopatra yang berkuasa di Mesir selama 69-30 SM, Isabella di Spanyol selama dekade 1451-1504, Marry Tudor di Inggris 1516-1558, Corazon Aquino di Filipina, dan masih banyak lagi. Dan kini kita pun tidak bisa mengelak kalau sekarang ini Indonesia dipimpin oleh seorang wanita, Dyah Permata Megawati Setiawati alias Megawati Soekarno Putri.

Sungguhpun demikian, masih banyak anggapan stereotype tentang kepemimpinan wanita. Banyak yang menganggap bahwa wanita hanya layak berdiri di belakang lelaki. Sekalipun banyak yang bisa dilakukan wanita di belakang pria, wanita tetap dianggap tidak memiliki otoritas. Makanya, meski Mega sudah resmi dengan tampuk kepemimpinannya tidak sedikit yang meragukannya. Hal ini sedikit banyak dipicu oleh anggapan umum terhadap wanita yang sudah timbul sejak jaman dulu:
 
 
 

Wanita lebih sensitif dan lembut
Secara kodrat wanita memang lebih perasa dari pria. Karena itu wanita pun lebih sering menangis ketimbang pria. Secara fisik, wanita juga lebih lembut dari lelaki. Baik gerakannya, tubuhnya, jari jemarinya, dan tutur katanya. Karena itu, jika dihadapkan pada kekerasan, anak wanita cenderung lari dan bersembunyi di balik tubuh ibunya. Sedangkan anak laki-laki dituntut melakukan perlawanan membela diri. Tetapi tentu saja ini cuma pengalaman wanita di masa kecil. Di jaman serba keras sekarang ini wanita dewasa dituntut untuk bisa membela diri. Wanita-wanita sudah semakin sadar bahwa tidak selamanya ia bisa mengandalkan orang lain untuk membela dirinya. Sehingga wanita jaman sekarang sudah tampil menjadi pribadi yang kuat dan tegar.

Wanita selalu butuh lelaki untuk melindunginya
Wanita dan pria memang ditakdirkan untuk bersatu. Tetapi pria berada pada posisi pelindung dan pencari nafkah bagi wanita. Sedangkan wanita cukup mengurus rumah, suami dan anak-anak. Anggapan ini menyebabkan banyak wanita yang bergantung pada kaum lelaki. Di lingkungan kerja, banyak wanita yang memilih menyingkir jika rekan pria mengambil alih pekerjaannya. Tapi kini tidak lagi, banyak wanita-wanita cakap yang lebih maju karirnya dari lelaki. Bahkan suami-istri sama-sama bekerja bukan hal asing lagi.

Wanita mahluk penakut
Sejak dulu, wanita selalu dijejali oleh berita-berita menakutkan tentang kekerasan terhadap wanita. Banyak laporan mengenai kekerasan wanita mulai dari pelecehan seksual sampai perkosaan. Sejak kanak-kanak wanita selalu diberi kesan bahwa keberadaan mereka di dunia ini tidaklah aman. Sehingga tidak bisa disalahkan jika wanita tumbuh menjadi mahluk penakut, selalu khawatir, cemas, dan was-was. Namun kini wanita sudah lebih realistis, ia punya cara tersendiri untuk menghadapi bahaya yang mengancamnya.



Wanita tidak pantas jadi pemimpin
Dengan alasan kelemahannya, kodrat, perilaku, dsb, wanita dianggap tidak layak menjadi pemimpin. Wanita hanya dianggap pelengkap kaum lelaki. Sulitnya wanita yang berlaku tegas dan terbuka justru akan dianggap sombong, bossy, pemaksa, dan banyak sebutan lainnya. Akibatnya tidak ada alasan yang tepat bagi wanita untuk menjadi pemimpin.

Berbagai anggapan dan kondisi tersebutlah yang menyebabkan banyaknya keragu-raguan terhadap pemimpin wanita. Tapi apapun alasannya, meski banyak yang ragu bahkan sinis, toh wanita terus menancapkan kukunya di berbagai bidang. Banyak wanita yang membuktikan kemampuannya dalam memimpin suatu organisasi. Lagipula dengan dipimpin wanita bukan berarti kekalahan bagi kaum lelaki bukan?

Nyatanya jutaan lelaki di negeri ini bersorak kegirangan ketika Mega terpilih jadi presiden. Perbedaan gender emang udah nggak kepake lagi. Justru sebaliknya jika pria dan wanita saling bahu membahu, sukses bisa diraih bersama, nggak perlu gengsi lagi deh. Toh masing-masing memang punya kekurangan dan kelebihan!