5 Kesalahan Finansial Terbesar pada Pebisnis Pemula

Cash flow ibarat pembuluh darah dari sebuah bisnis. Apabila Anda kehabisan uang sebelum bisnis Anda berhasil memberikan pendapatan yang konsisten dan berkelanjutan, itu artinya game over. Sudah terlalu banyak bisnis menjanjikan yang berakhir begitu saja, dengan kondisi keuangan dan emosional pendirinya hancur lebur.



Pengacara spesialis kasus hutang piutang di Amerika, Emily Chase Smith, percaya masalah ini ada solusinya. Yang perlu para pebisnis pemula lakukan adalah persiapan finansial yang sedikit lebih matang sebelum meluncurkan bisnis barunya.

Smith mengungkapkan lima kesalahan finansial terbesar yang mencegah bisnis-bisnis baru mencetak skor kesalahan, dikutip dari inc.

"Jaga cashflow dengan menghindari lima kesalahan yang biasanya dilakukan orang di tahun awal berdiri usahanya, dengan begitu bisnismu akan jadi bisnismu pemenang", tegasnya. Apa aja lima hal itu?


1. Salah menghitung kebutuhan
Petuah klasik mengatakan saat bepergian bawalah setengah pakaian yang bisa kamu bawa dan uang sebanyak-banyaknya. Pada perjalanan usaha Anda, anggarkan waktu dan uang dua kali dari yang butuhkan.

Semuanya akan berjalan lebih lama dari yang tertulis di atas kertas perencanaan. Akan ada biaya-biaya yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya sampai Anda benar-benar mengalaminya.

Jadilah lebih realistis, buat business plan yang konservatif, dan lipat gandakan angka-angka kebutuhannya. Anda tidak ingin kehabisan uang di tengah-tengah permainan kan?


2. Pengeluaran awal yang terlalu besar
Banyak pengusaha yang bermimpi besar, dan terkadang matanya lebih besar daripada dompetnya. Siapkan diri Anda untuk sukses dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Sebagai contoh, kantor. Anda tidak perlu membeli kantor yang megah di awal bisnis Anda berdiri. Sewalah sebuah ruangan di dalam sebuah kompleks perkantoran. Mungkin saja Anda akan membangun hubungan kerjasama dengan sesama penyewa yang berpotensi menumbuhkan bisnis Anda.

Dan bila Anda menemui klien di rumah mereka, Anda tidak butuh kantor sama sekali. Apa yang Anda butuhkan adalah potongan rambut yang rapi, setelan jas yang pantas, dan sebuah tas kerja. Berinvestasilah hanya pada hal-hal yang dapat menciptakan pengalaman dan kesan yang Anda inginkan untuk klien dan lupakan hal-hal yang jarang terlihat klien .


3. Sistem penggajian yang boros
Gaji karyawan biasanya menjadi item pengeluaran terbesar. Kadang karyawan membuat pengusaha merasa superior, namun dengan cepat mereka akan berubah menjadi orang bergaji terendah di perusahaannya sendiri.

Sebelum Anda memasukkan siapapun ke dalam tim Anda, sebaiknya pastikan lebih dulu apakah Anda benar-benar membutuhkan pegawai. Pertimbangkan lagi apakah sebaiknya mengontrak pegawai baru, atau melimpahkannya pada kontraktor independen yang sudah jelas berpengalaman.

Sebaiknya Anda mengontrak pegawai baru hanya bila Anda mempunyai pekerjaan yang dapat membuatnya tetap sibuk di kompetensi utamanya untuk jangka waktu yang lama.

Coba bandingkan lebih dulu gaji pegawai per jamnya dengan biaya menyewa kontraktor. Honor kontraktor per jamnya lebih tinggi, namun mereka punya pengalaman di bidangnya. Anda bisa menghemat biaya dan waktu untuk training, supervisi, dan alasan terbaiknya adalah Anda menghemat uang Anda untuk jangka panjang.

Itulah mengapa kini banyak perusahaan besar melibatkan perusahaan outsourcing untuk men-support bisnisnya.


4. Membeli peralatan baru
Tahanlah diri Anda dari daya tarik barang baru. Jangan keburu percaya mulut manis salesman yang menjelaskan mengapa model terbaru tahun ini jauh lebih superior.

Pada banyak kasus, kualitas barang bekas sama baiknya dengan yang baru, dan harganya hanya separuhnya, bahkan bisa kurang.

Cara terbaik untuk berhemat atau mengambil pinjaman untuk bisnis baru Anda adalah, belanjakan uang hanya untuk peralatan yang bisa membantu Anda menciptakan cashflow positif secepat mungkin.

Dan jangan sampai melewatkan penjualan alat-alat perusahaan yang gulung tikar. Hal itu berarti Anda telah menolong sesama pebisnis, Anda menolongnya memperoleh modal untuk memulai bisnis baru lagi. Uang dari pembelian anda adalah penyelamat hidupnya.


5. Tidak tahu kapan harus berhenti
Pebisnis umumnya adalah orang-orang yang optimistis. Kita tidak akan bisa survive tanpa optimisme, tapi kita juga harus mempersiapkan diri dengan baik.

Bisa saja perahu menabrak gunung es ketika acara dansa sedang berlangsung, tapi pebisnis yang cerdas tahu di mana sekocinya dan tahu bagaimana menggunakannya. Pebisnis yang cerdas hidup untuk bertarung di kemudian hari.

Buat exit plan dengan indikator-indikator yang objektif. Bisa berupa tingkat pemasukan, tingkat hutang, atau jumlah aset. Indikator objektif Anda akan mengatakan kapan saatnya menurunkan sekoci.

Sebuah exit plan darurat harusnya dilengkapi dana darurat. Tiga sampai enam bulan biaya hidup adalah jumlah uang yang besar, namun hal itu akan memberi Anda rasa aman selama Anda sedang bersiap untuk permainan selanjutnya.

Anda membutuhkan uang yang cukup untuk makan dan hidup selama Anda mempersiapkan bisnis baru Anda. Singkirkan jauh-jauh godaan untuk menggunakan dana darurat tadi untuk menyelamatkan bisnis Anda yang tenggelam. (LUK/IGW)